Tuntun si Kecil Meraih Cita-cita

Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit di angkasa, ungkapan itu sering kita dengar sejak kecil. Tapi, bagaimana jika anak kita memiliki cita-cita yang ‘ajaib’ dan kerap berubah? Bagaimana pula sebaiknya orang tua menuntun anak meraih cita-cita.

Mungkin ada orang tua yang bertanya-tanya mengapa cita-cita anaknya selalu berubah-ubah. Cita-cita adalah sesuatu yang bersifat abstrak sementara cara berpikir anak-anak masih berada pada tahap kongkrit operasional karena itu cita-cita pada anak seringkali berubah-ubah.

Seperti yang disampaikan Psikolog Anak, Devi Ayutya Wardhani, M. Psi., cita-cita anak biasanya berkaitan dengan hal-hal yang dekat dengan kehidupannya sehari-hari. Dalam masa ini anak juga sering berimajinasi tentang apa yang ia inginkan kelak. Tak jarang anak memiliki cita-cita yang menurut orang dewasa ajaib atau bahkan irasional seperti ingin menjadi peri usai membaca buku cerita tentang peri atau ingin jadi robot usai menonton film kartun.

“Cita-cita anak yang kerap berubah sebenarnya menunjukkan perkembangan imajinasi dan perkembangan cara berpikirnya. Biasanya hal itu mulai berkurang saat anak mulai menginjak usia remaja di mana cara berpikirnya sudah masuk tahap formal operasional, ia mulai mampu berpikir abstrak dan mengkaitkan antara pengetahuan yang dimiliki, imajinasi dan kemampuan-kemampuannya,” jelas Devi.

Sebagai orang tua tentu kita ingin agar ketika dewasa anak dapat meraih cita-citanya. Namun, orang tua tidak perlu memaksa anak untuk memiliki cita-cita secara pasti sejak kecil karena secara alamiah anak-anak masih sangat dipengaruhi oleh imajinasinya. Tapi tidak ada salahnya jika jika sedini mungkin orang tua dapat mengenalkan konsep cita-cita pada anak sejak ia sudah dapat diajak berkomunikasi. Walaupun anak belum dapat berbicara secara verbal, sebenarnya orang tua sudah dapat memberikan stimulasi dengan cara memberi anak pengalaman yang seluas-luas mengenai lingkungan kehidupan anak.

Misalnya saat anak diajak pergi ke dokter orang tua dapat bercerita mengenai profesi dokter. Saat anak mulai bersekolah, orang tua dapat menceritakan tentang profesi guru atau saat bertemu dengan polisi lalu lintas orang tua pun dapat banyak bercerita tentang hal itu.

“Semakin kaya pengalaman anak, maka imajinasi dan pengetahuannya pun akan semakin berkembang. Hal itu akan banyak mempengaruhi konsep cita-cita yang dimiliki oleh anak,” jelas psikolog yang praktik di Insanika Consulting ini.

Next Post

No more post

You May Also Like